Pertempuran besar ini awalnya dipicu oleh insiden di Hotel Yamato, Tunjungan, Surabaya. Dimana kala itu sekelompok orang Belanda di bawah pimpinan Mr. W.V.Ch. Ploegman pada 18 September 1945, tepatnya pukul 21.00, mengibarkan bendera Belanda (Merah-Putih-Biru), di tiang pada tingkat teratas Hotel Yamato (Hotel Oranye), yang berujung pada perobekan bendera berwarna biru, menjadi tinggal merah putih yang berkibar.
Hotel Yamato (Hotel Oranye)
Kemudian, kematian Brogadir Jenderal Mallaby, pimpinan tentara Inggris untuk Jawa Timur dalam insiden baku tembak antara pasukan India pimpinan Mallaby dengan milisi Indonesia. Setelah terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, penggantinya, Mayor Jenderal Robert Mansergh mengeluarkan ultimatum yang menyebutkan bahwa semua pimpinan dan orang Indonesia yang bersenjata harus melapor dan meletakkan senjatanya di tempat yang ditentukan dan menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas. Batas ultimatum adalah jam 6.00 pagi tanggal 10 November 1945.
Nah, dua insiden besar itulah yang memicu pertempuran besar 10 November 1945. Tentara Inggris mulai melancarkan serangan berskala besar, yang diawali dengan pengeboman udara ke gedung-gedung pemerintahan Surabaya, dan kemudian mengerahkan sekitar 30.000 infanteri, sejumlah pesawat terbang, tank, dan kapal perang.
Namun hebatnya, hanya dalam waktu tempo tiga hari, serangan Inggris dapat ditaklukkan oleh perlawanan milisi Indonesia, semangat dan tekad yang ditunjukkan para tokoh masyarakat seperti pelopor muda Bung Tomo sangat berpengaruh besar dalam perlawanan ini.
Bung Tomo, sebagai pahlawan yang sangat dihormati dalam sejarah 10 November 1945, ternyata masih banyak yang belum tahu akan rumah tinggal kediaman beliau. Ironis memang, bahkan banyak warga Surabaya sendiri yang belum banyak mengetahui dimana rumah beliau di Surabaya.
Dukut Imam widodo, sastrawan yang tinggal di Surabaya, dalam bukunya "Hikajat Soerabaja Tempoe Doeloe" tertulis riwayat Bung Tomo pernah tinggal dimana serta mulai kapan beliau tinggal. Dukut menyatakan bahwa rumah di Jalan Simpang Dukuh no 15 Surabaya pernah menjadi rumah tinggal Bung Tomo beserta istrinya.
Pernyataan serupa juga diungkapkan oleh Kuncarsono Prastyo, seorang pemerhati sejarah asal Surabaya. Dalam catatan sejarah yang diperolehnya dari buku "Peringetan Rapat Taoenan PBI Pertama", di dalamnya terdapat foto sebuah memo dengan tulisan Dr. Soetomo. Tertulis dalam kepala memo tersebut, Raden Soetomo Huidarts, Simpang Doekoh 15 Soerabaia. Diyakini Bung Tomo tinggal di alamat tersebut pada tahun 1923 hingga akhir hayat hidupnya 30 Mei 1938
Jalan Simpang Dukuh no 47 Surabaya
Sayangnya, kondisi rumah tersebut kurang terawat dengan tumbuhnya semak-semak belukar. Jalan Simpang Dukuh no 15 pada masa lalu kini telah berganti nomor menjadi no 47. Semoga pemerintah dapat bergerak cepat guna melestarikan rumah ini sebagai cagar budaya, khususnya pemerintah daerah Surabaya.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar